Hidup adalah soal keberanian menghadapi tanda tanya


Hidup adalah soal keberanian menghadapi tanda tanya, tutur salah satu filsuf. Tanda tanya itu akan selamanya menjadi misteri, kalau manusia tidak mau beranjak dari kursi malasnya. Cara membuka tabir misteri itu harus melalui dua pintu yaitu ilmu dan agama. Ilmu dan agamalah yang mengajarkan aneka kehidupan dan kearifan. Ilmu dan agama ibarat mobil dan bahan bakarnya. Agama tidak akan bisa bergerak membawa pengikutnya menuju pencerahan jika bahan bakarnya yaitu ilmu tidak diikutsertakan. Percaya atau tidak, begitu pentingnya ilmu, Nabi dalam sebuah amanatnya, memberikan rekomendasi kepada umatnya untuk mengunjungi Cina yang disinyalir sebagai negeri segudang ilmu. Berbicara ilmu selalu tidak lepas dari ranah pendidikan. Islam sebagai agama yang diklaim memiliki keutuhan dan kelengkapan dalam sembarang aspek kehidupan yang paling komprehensip juga menempatkan pendidikan sebagai bagian paling vital dalam dirinya. Saya menghitung satu, dua. Bahkan lebih dari delapan puluh ayat dalam rujukan yang mu'tabar (paling tepat) yaitu kitab suci al-Qur'an yang berbicara tentang koridor pendidikan. Ini bisa kita cek misalnya pada surat al-Kahfi: 109, at-Taubat:122, al-Ankabut: 49 diantaranya.
Jumlah ini akan terus bertambah jika kita gali dari hadis yang sifatnya tarbawi. Merangkum dari dua rujukan yang mengandung sejuta kebijaksanaan itu, kita dapati bahwa mencari ilmu dalam hal ini belajar tentunya harus berkutat pada empat dimensi yaitu belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk berbuat (learning to do), belajar untuk menjadi jati diri (learning to be), dan belajar untuk hidup bersama (learning to live together). Empat dimensi itulah yang menjadi modal dasar untuk hidup seseorang di dunia. Dalam dunia pendidikan istilah tersebut ngetrend dengan sebutan life skill (kecakapan hidup). Nah kalau membahas pendidikan Islam apakah lingkupnya hanya membicarakan ilmu tentang sholat, puasa dan segala tetek bengek lainnya yang berhubungan dengan ibadat ritual ? tentu saja pemahaman seperti itu adalah pemahaman yang sempit. Pendidikan Islam tidak membatasi dirinya pada label yang terdapat Islamnya saja, tetapi lebih dari itu, pokoknya dimana di situ ada nilai nilai kebaikan (barokah: ziyadatun khoiron), maka umat muslim wajib mengambilnya. Jadi meskipun yang dibahas misalnya gaya hidup, teknologi, pola pikir, yang meskipun itu dari Barat ataupun dari negeri antah berantah tetapi jika muatannya mengandung nilai-nilai islami maka itupun sudah bisa dimasukan pendidikan Islam. Imam Ali bin Abi Thalib  pun pernah berujar, meskipun ilmu itu yang membawa orang gila, maka ambillah.
Dari pintu ilmu itulah muncul kebijaksanaan dan dalam sebuah hadis, Nabi berucap bahwa kebijaksanaan (hikmah) itu adalah barang hilangnya kaum Muslim, maka barang siapa menemukannya, maka kita diperintahkan untuk mengambilnya. Bahan-bahan pendidikan yang berasal dari non Islam itu, kata Fazlur Rahman, seorang Kyai yang menjadi mahaguru dari Nurcholish Madjid (Cak Nun), digunakan untuk meningkatkan kapasitas memproduksi ulama profesional dan profesional ulama yang tidak hanya modern tetapi juga kreatif dalam usaha bidang intelektual yang arahnya ditujukan untuk kemajuan agama Islam. Dari situ kita mendapat kesimpulan bahwa aspek yang maudituju pendidikan  Islam adalah menanamkan nilai-nilai fundamental Islam berdasarkan disiplin ilmu apapun. Profil manusia yang tergambarkan di sini adalah manusia yang berhati Makkah tetapi otak Jerman.  Dengan demikian unsure pendidikan Islam menjadi unsur pokok yang tidak boleh  ditinggalkan oleh umat Muslim.
Ia menuntut untuk selalu direkayasa dan dikembangkan. Terlebih kita sebagai agen intelektual tentunya mempunyai tanggung jawab akademik dan moral untuk membuat denyut nadinya terus hidup dan bergelora dalam membentuk peradaban Islam. Tidak semata-mata  hanya berkutat pada buku-buku berwacana Islam saja, manusia harus mempunyai watak transformatif artinya mampu menerjemahkan nilai-nilai yang dia pelajari di tempat dia belajar untuk kemudian diterapkan pada kehidupan yang berada di depan matanya. Sketsa manusia yang ideal menurut saya adalah dia mampu menjadi pewaris nilai-nilai pengetahuan dan nilai Islam dan kemudian dengan bekal itu dia memproduksi kembali nilai-nilai Islam yang belum tergali dan terlupakan untuk disemainya menjadi suatu kebudayaan dan peradaban Islam yang agung.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 comments:

Post a Comment

Template Copy by Blogger Templates | BERITA_wongANteng |MASTER SEO |FREE BLOG TEMPLATES