Alkisah dahulu kala, di
sebuah desa, hiduplah seorang ibu yang sudah tua dengan anak
satu-satunya. Suaminya telah meninggal beberapa tahun lalu karena sakit
akut yang dideritanya.
Seringkali ibu tua tersebut merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Ia sangat mengkhawatirkan tabiat buruknya. Ia suka mencuri. Mabuk-mabukan. Berjudi. Dan masih b...anyak lagi sifat buruk lainnya.
Ibu tua tersebut seringkali meratap menangisi nasibnya. Tapi ia tak lupa selalu berdoa kepada Allah.
"Ya Allah, tolonglah hamba-Mu ini. Sadarkanlah anakku yang kusayangi. Jauhkanlah ia dari berbuat kemaksiatan. Aku sudah tua. Aku ingin sekali melihat anakku bertaubat sebelum ajalku tiba."
Namun semakin hari kelakuan anaknya semakin menjadi-jadi. Bahkan ia semakin sering keluar masuk penjara akibat perbuatan kejahatannya.
Suatu hari ia kembali ditangkap ketika kedapatan sedang mencuri di rumah salah seorang penduduk desa. Maka dihadapkanlah ia kepada Raja untuk diadili.
Malang tak dapat ditolak. Untungpun tak dapat diraih. Saat diadili ia terbukti mencuri dan dijatuhi hukuman pancung sampai mati.
Maka keputusan tersebut segera diumumkan kepada semua penduduk. Dan eksekusinya akan segera dilaksanakan di depan umum untuk membuat efek jera buat yang lain.
Pada akhirnya berita hukuman tersebut sampai juga kepada si ibu tua. Ia kembali menangis meratapi nasib anak satu-satunya. Anak yang dikasihinya akan menjemput ajal mendahuluinya.
Seringkali ibu tua tersebut merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Ia sangat mengkhawatirkan tabiat buruknya. Ia suka mencuri. Mabuk-mabukan. Berjudi. Dan masih b...anyak lagi sifat buruk lainnya.
Ibu tua tersebut seringkali meratap menangisi nasibnya. Tapi ia tak lupa selalu berdoa kepada Allah.
"Ya Allah, tolonglah hamba-Mu ini. Sadarkanlah anakku yang kusayangi. Jauhkanlah ia dari berbuat kemaksiatan. Aku sudah tua. Aku ingin sekali melihat anakku bertaubat sebelum ajalku tiba."
Namun semakin hari kelakuan anaknya semakin menjadi-jadi. Bahkan ia semakin sering keluar masuk penjara akibat perbuatan kejahatannya.
Suatu hari ia kembali ditangkap ketika kedapatan sedang mencuri di rumah salah seorang penduduk desa. Maka dihadapkanlah ia kepada Raja untuk diadili.
Malang tak dapat ditolak. Untungpun tak dapat diraih. Saat diadili ia terbukti mencuri dan dijatuhi hukuman pancung sampai mati.
Maka keputusan tersebut segera diumumkan kepada semua penduduk. Dan eksekusinya akan segera dilaksanakan di depan umum untuk membuat efek jera buat yang lain.
Pada akhirnya berita hukuman tersebut sampai juga kepada si ibu tua. Ia kembali menangis meratapi nasib anak satu-satunya. Anak yang dikasihinya akan menjemput ajal mendahuluinya.
"Ya Allah, ampuni dosa anak hamba. Biarlah hamba yang sudah tua ini yang akan menanggung dosanya." doa ibu tua tersebut.
Sehari sebelum pemancungan, berangkatlah si ibu tua untuk menemui Sang Raja. Setelah bertemu Raja, ia memohon pengampunan atas anaknya agar hukuman bisa dibatalkan.
Akan tetapi keputusan sudah bulat. Anaknya pun harus tetap menjalani hukumannya.
Dengan perasaan hati yang hancur, ibu tua tersebut pulang kembali ke rumahnya. Tak henti-hentinya ia berdoa kepada Allah agar anaknya diberi pengampunan oleh Raja.
Hingga akhirnya ia tertidur karena kelelahan.
Keesokan harinya penduduk desa datang berbondong-bondong ke tempat yang telah ditentukan untuk menyaksikan proses pemancungan.
Terlihat Sang Algojo telah siap dengan pedang tajamnya yang telah terhunus. Sekali bunyi lonceng berdentang, maka si Algojo akan langsung mengeksekusi. Tampak si anak terlihat pasrah akan nasibnya.
Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua. Tanpa sadar ia meneteskan air mata. Menyesali apa-apa yang telah diperbuatnya.
Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Lonceng kematianpun telah ditarik. Tapi tak berbunyi. Kembali ditarik oleh petugas penariknya. Dentangan bunyinya pun tak kunjung terdengar. Para petugaspun kebingungan. Tak seperti biasanya dengan satu tarikan, maka dentangan lonceng tersebut langsung berbunyi dengan kerasnya. Akan tetapi kali ini sudah ditarik berkali-kali suara loncengpun tak jua berbunyi. Ada apakah gerangan?
Sang petugas penarik tali lonceng terkaget-kaget. Seakan tak percaya. Tiba-tiba dari atas tali lonceng mengalir darah. Ternyata darah tersebut mengalir dari arah lonceng tempat dimana lonceng tersebut diikat.
Seluruh penduduk ikut terheran-heran. Beberapa petugas naik memeriksa lonceng tersebut.
Innalillah!
Ternyata didalam lonceng tersebut ditemukan tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Ia memeluk bandul di dalam lonceng tersebut agar tidak berbunyi saat ditarik. Sebagai gantinya, kepala ibu tua tersebut yang membentur lonceng.
Semua penduduk tertunduk penuh haru menyaksikan pemandangan tersebut. Tak sedikit pula yang meneteskan air mata.
Sementara si anak menangis meraung-raung sambil memeluk jasad ibunya yang telah diturunkan. Ia teramat menyesal telah banyak menyusahkan ibunya.
Ternyata si ibu (tanpa seorangpun tahu) telah memanjat dengan bersusah payah keatas lonceng. Dan mengikatkan tubuhnya dalam lonceng. Maksud hati agar lonceng tak berbunyi dan menghindari hukuman pancung anaknya. Ia rela mengorbankan nyawanya demi sebuah kasih sayang kepada anak satu-satunya.
Semoga bisa diambil hikmahnya Akhy dan Ukhty, Salam santun kami.
Sehari sebelum pemancungan, berangkatlah si ibu tua untuk menemui Sang Raja. Setelah bertemu Raja, ia memohon pengampunan atas anaknya agar hukuman bisa dibatalkan.
Akan tetapi keputusan sudah bulat. Anaknya pun harus tetap menjalani hukumannya.
Dengan perasaan hati yang hancur, ibu tua tersebut pulang kembali ke rumahnya. Tak henti-hentinya ia berdoa kepada Allah agar anaknya diberi pengampunan oleh Raja.
Hingga akhirnya ia tertidur karena kelelahan.
Keesokan harinya penduduk desa datang berbondong-bondong ke tempat yang telah ditentukan untuk menyaksikan proses pemancungan.
Terlihat Sang Algojo telah siap dengan pedang tajamnya yang telah terhunus. Sekali bunyi lonceng berdentang, maka si Algojo akan langsung mengeksekusi. Tampak si anak terlihat pasrah akan nasibnya.
Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua. Tanpa sadar ia meneteskan air mata. Menyesali apa-apa yang telah diperbuatnya.
Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Lonceng kematianpun telah ditarik. Tapi tak berbunyi. Kembali ditarik oleh petugas penariknya. Dentangan bunyinya pun tak kunjung terdengar. Para petugaspun kebingungan. Tak seperti biasanya dengan satu tarikan, maka dentangan lonceng tersebut langsung berbunyi dengan kerasnya. Akan tetapi kali ini sudah ditarik berkali-kali suara loncengpun tak jua berbunyi. Ada apakah gerangan?
Sang petugas penarik tali lonceng terkaget-kaget. Seakan tak percaya. Tiba-tiba dari atas tali lonceng mengalir darah. Ternyata darah tersebut mengalir dari arah lonceng tempat dimana lonceng tersebut diikat.
Seluruh penduduk ikut terheran-heran. Beberapa petugas naik memeriksa lonceng tersebut.
Innalillah!
Ternyata didalam lonceng tersebut ditemukan tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Ia memeluk bandul di dalam lonceng tersebut agar tidak berbunyi saat ditarik. Sebagai gantinya, kepala ibu tua tersebut yang membentur lonceng.
Semua penduduk tertunduk penuh haru menyaksikan pemandangan tersebut. Tak sedikit pula yang meneteskan air mata.
Sementara si anak menangis meraung-raung sambil memeluk jasad ibunya yang telah diturunkan. Ia teramat menyesal telah banyak menyusahkan ibunya.
Ternyata si ibu (tanpa seorangpun tahu) telah memanjat dengan bersusah payah keatas lonceng. Dan mengikatkan tubuhnya dalam lonceng. Maksud hati agar lonceng tak berbunyi dan menghindari hukuman pancung anaknya. Ia rela mengorbankan nyawanya demi sebuah kasih sayang kepada anak satu-satunya.
Semoga bisa diambil hikmahnya Akhy dan Ukhty, Salam santun kami.
sumber : http://www.facebook.com/#!/pages/Strawberry/327342750179
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 comments:
Post a Comment